sebuah perjalanan pagi..

Sebuah perjalanan pagi tanggal 19 Maret 2008..

Beuh..gak seperti di Bandung,jam 5 pagi aku dah bangun, tepatnya terbangun karena aktivitas orang rumah yang udah sibuk jam segitu. Setelah bermalas-malasan,sarapan, dan nonton TV,tak terasa jam sudah pukul 7 pagi. Aku belum beres-beres dan sudah harus tiba di kantor tempatku TA sekitar pukul 8 pagi,waw..Aku pergi terburu-buru dengan rambut seperti kucing kecebur,karena baru kusadari hair dryer mama rusak,ughh..Belum lagi harus menunggu bis,karena aku tidak bisa menyetir,aihhh..

Saat menunggu bis di pinggir tol,aku berpikir tentang orang-yang-tidak-ingin-kutemui hari ini,karena aku sudah tau,topik apa yang akan dibahas saat aku bertemu dengannya. Dan jujur,aku sedang ingin menghindari topik yang berulang kali dibahas jika aku bertemu dengan si oknum U*** tersebut. Ohh,lama juga bis AC lewat,fiuh.Berbicara tentang bis,aku jadi ingin membahasnya. Perjalanan ke Cibitung memakan waktu sekitar 30 menit dan panasnya cuaca membuatku hanya ingin naik bis AC. Bukan hanya kenyamanan yang kucari,tapi juga harga,hahaha..Harga bis AC hampir sama atau bahkan ada yang lebih murah dengan bis non AC,dimana kondisi bis non AC seringkali sudah tidak layak jalan,luar biasa..!!

Setelah menunggu sekitar 10 menit,datanglah sebuah bis AC jurusan X.Deres – Cikarang,naiklah aku bis itu. Mencari bangku yang masih kosong tiba-tiba ada penumpang yang mencolekku,kutengok badan dan let guess,who is he/she?? Yup,seorang oknum U*** yang baru saja ku berpikir untuk tidak ingin bertemu dengannya.Hoalah,semoga ini bukan “a perfect day”.

Baru saja aku berusaha memejamkan mata,2 orang pengamen cilik masuk ke dalam bis,berdiri di tengah bangku penumpang. Sang kakak berusia sekitar 9 tahun membawa sebuah gitar dan bertampang “agak dewasa dari umurnya”,dan ntah knapa aku berpikir pengetahuan 17++ nya pasti lebih banyak dariku,hehehe..Sang adik,gadis cilik berambut pendek berusia sekitar 4 tahun membawa kencrengan dan amplop yang ia bagikan kepada penumpang. Mendengar sang kakak mulai memainkan gitar dan bernyanyi sebuah tembang dalam negri dari Letto,aku tidak jadi memejamkan mata,perhatianku tertuju pada bocah cilik berusia sekitar 3 tahun yang bersama orang tuanya. Bocah tersebut duduk di depanku dengan antusias memperhatikan kedua pengamen. Dalam hati ku berpikir,apa sih yang membuat dia tertarik? Apakah sebuah realita yang harus dialami “teman sebayanya”? Agak miris memang. Dari segi suara,parahhhh banget,bahkan mereka bukan bernyanyi,tapi teriak menurutku,jadi bukan karena suara tentu.Tembang “selembut cahaya” Letto tidak terdengar lembut dinyanyikan mereka. Pikiran lain muncul,knapa mereka gak sekolah?bukannya anak jalanan pun sekolah?aku yang sedang berusaha berpikir positif pada saat kapan pun menebak :ahh,pasti mereka sekolah siang..:). Klo mau berpikir negatif,pengamen yang mestinya duduk di bangku sekolah ini sudah terlalu nyaman dengan pekerjaan utama bagi mereka ini,yaitu mencari uang di jalanan. Dengan modal yang seadanya,mereka bisa dengan bangga membantu orang tuanya mencari penghasilan. Miris memang,makanya sebagian orang berpendapat dan mengeluarkan ajakan untuk tidak memberi uang pada mereka. Kadang mereka terbentur antara cita-cita dengan realita kehidupan yang harus dijalani. Tidak mau berpikir negatif, ini mah realistis aja.

Bis bergerak keluar menuju gerbang tol Cibitung,argh..macet lagi. Di tengah kemacetan,mataku memperhatikan sekeliling,para penumpang lainnya. Rata-rata dari mereka memang karyawan industri sekitar Cibitung dan Cikarang. Ada seorang pria yang asik menelpon dengan suara keras,pria di sebelahku yang mengomel karena menurutnya jalanan tambah macet,seorang wanita berseragam tulisan perusahaan yang mau ku datangi,dan penumpang lain yang sebagian besar memejamkan mata. Walau cuaca di luar sangat cerah,tapi tetap saja masih pagi. Perjalananku berhenti ketika bis sudah sampai di depan sebuah komplek berplang merah bertuliskan PT.Coca Cola Bottling Indonesia, National Plant. Aku pun turun dan tentu saja bersama oknum U***,seorang pegawai HRD di perusahaan itu. Sebelum menyebarang,dia pun menyapaku dan memulai topik yang sudah kuduga akan dia bicarakan ketika bertemu denganku.Wawww..aku pun bingung, tidak tahu harus berkata apa menanggapi topiknya.Fiuh..huff..

Aku pun melangkah maju masuk ke gedung setelah sebelumnya menyapa satpam yang biasanya ingin disapa. Sebelum beraktifitas,aku pun melangkah ke toilet wanita di dekat kantin, dan let guess,siapa yang kutemui disana?? Oknum U*** lagi.waawwww,luar biasa. Sebuah percakapan di toilet pun dimulai. Kali ini membahas tentang pegawai yang pindah gedung kantor,cuti hamil,kebutuhan PKL,mahasiswa ITB yang ingin KP disini. Setelah selesai dengan aktifitas toilet dan berpamitan dengan si oknum,aku pun berjalan menuju ruanganku,ruang rapat di sebuah kantor logistics,dengan AC yang sangat dingin. Sesampaiku di rungan,telah menunggu rekanku yang sedang mengerjakan tesis,seorang mahasiswa MBA ITB. Sudah siapkah aku untuk kembali berdiskusi dengannya tentang layout,warehouse,demand,jurnal,sistem,blablabla?? Hahaha..kembali berkutat dengan laptop dan TA-ku yang tidak kunjung maju.

*nb : dari pengalaman si aku,janganlah berpikiran untuk tidak ingin bertemu dengan seseorang,biasanya malah jadi ketemu dan tidak tahu harus berbuat apa,hahaha….oya,sorenya pun ketika akan pulang masih bertemu dengan si oknum..

ajaib..

Gile..gara2 udah lama gak kuliah dan lagi gak tau mau ngapain,gw jadi bikin nih blog..

Sebenernya suka dan pengen nulis,tapi takut disalahgunakan oleh diri sendiri,hehe..

Gw suka sama pemikiran2 baru,beda! hoho..

HANYA seorang pemula yang ingin mencoba..menemukan pemikiran baru..dan mengisi waktu,hahaha..

*minggu kmrn full gak ada kuliah,3 minggu yang lalu juga..hari ini juga,how about tomorrow??akankah minggu ini gak kuliah juga??wah2..berasa bukan mahasiswi aja..